Selamat Jalan Ronald Rivia
mengemasi langkahlangkah kita
di antara riuhreda terik sinar matahari dan
lembutnya cahaya bulan yang dihiasi gemintang
untuk menelusuri labirinlabirin hidup
dalam ketidakpastian yang sebenarnya telah pasti
mungkin suatu saat langkah kita begitu ringan
berayun santai di antara kerikilkerikil kecil
menjejak pasti di sela rerumputan
untuk menggapai segenap impian
adakalanya langkah kita tertatih
tertahan oleh bebatuan di antara jeramjeram
tergores ilalang yang setinggi pinggang
namun inilah tantangan.
kini, kawan,
langkahmu kembali tertuju ke muasal
dari segala muasal
semoga semua menjadi ringan
selamat jalan
7 April 2008
Monday, April 07, 2008
Friday, April 04, 2008
Undangan Dialog Terbuka Untuk Sdr. Roy Suryo
Dikirim oleh Riyogarta dalam Spesial
Sumber : www.riyogarta.com
“Dengan sangat senang, yang disebut ‘Dialog Terbuka’ adalah diskusi secara nyata dan bertanggung jawab,” kata Roy Suryo dalam pesan singkatnya kepada okezone, Selasa (1/4/2008).
Roy memastikan siap hadir dalam acara itu secara profesional seperti layaknya acara seminar. “Tolong mereka menyiapkan tempat umum yang ilmiah seperti kampus, diliput media, dan hadir secara nyata. Saya tidak melayani diskusi maya,” tegas dosen UGM Yogyakarta itu.
sumber: Okezone
Untuk menanggapi kutipan berita diatas, saya dengan ini mengundang secara resmi Sdr. Roy Suryo untuk hadir dalam acara Dialog Terbuka yang akan membahas tema isu seputar blogger terkait dengan statemen-statemennya yang telah dikeluarkannya di media massa.
Acara akan diselenggarakan pada:
Hari / Tanggal : Jumat, 11 April 2008
Tempat : Universitas Budi Luhur Pusat Jakarta
Waktu : 13.00 WIB - selesai
Acara : Dialog terbuka antara Riyogarta & Roy Suryo dengan tema seperti yang telah diutarakan diatas.
Fasilitas:
* Ruangan ber-AC dengan kapasitas 250 orang
* LCD Proyektor
* Sound System
* Snack bagi pembicara dan peserta
* Liputan media
Pendaftaran dilakukan di Universitas Budi Luhur Pusat Jakarta 2 jam sebelum acara dimulai. Pendaftaran tidak dipungut biaya.
Bagi pembicara dan moderator disediakan transportasi didalam kota dari dan keUniversitas Budi Luhur Pusat Jakarta.
Terimakasih kepada Universitas Budi Luhur Pusat Jakarta yang telah menyediakan waktu dan tempat beserta fasilitas untuk terselengaranya acara ini.
Salam,
Riyogarta
Sumber berita dan info lebih lengkap dan up to date ada di :
Website: www.riyogarta.com
Email : me@riyogarta.com
Telp : 0855-100-7204
Dikirim oleh Riyogarta dalam Spesial
Sumber : www.riyogarta.com
“Dengan sangat senang, yang disebut ‘Dialog Terbuka’ adalah diskusi secara nyata dan bertanggung jawab,” kata Roy Suryo dalam pesan singkatnya kepada okezone, Selasa (1/4/2008).
Roy memastikan siap hadir dalam acara itu secara profesional seperti layaknya acara seminar. “Tolong mereka menyiapkan tempat umum yang ilmiah seperti kampus, diliput media, dan hadir secara nyata. Saya tidak melayani diskusi maya,” tegas dosen UGM Yogyakarta itu.
sumber: Okezone
Untuk menanggapi kutipan berita diatas, saya dengan ini mengundang secara resmi Sdr. Roy Suryo untuk hadir dalam acara Dialog Terbuka yang akan membahas tema isu seputar blogger terkait dengan statemen-statemennya yang telah dikeluarkannya di media massa.
Acara akan diselenggarakan pada:
Hari / Tanggal : Jumat, 11 April 2008
Tempat : Universitas Budi Luhur Pusat Jakarta
Waktu : 13.00 WIB - selesai
Acara : Dialog terbuka antara Riyogarta & Roy Suryo dengan tema seperti yang telah diutarakan diatas.
Fasilitas:
* Ruangan ber-AC dengan kapasitas 250 orang
* LCD Proyektor
* Sound System
* Snack bagi pembicara dan peserta
* Liputan media
Pendaftaran dilakukan di Universitas Budi Luhur Pusat Jakarta 2 jam sebelum acara dimulai. Pendaftaran tidak dipungut biaya.
Bagi pembicara dan moderator disediakan transportasi didalam kota dari dan keUniversitas Budi Luhur Pusat Jakarta.
Terimakasih kepada Universitas Budi Luhur Pusat Jakarta yang telah menyediakan waktu dan tempat beserta fasilitas untuk terselengaranya acara ini.
Salam,
Riyogarta
Sumber berita dan info lebih lengkap dan up to date ada di :
Website: www.riyogarta.com
Email : me@riyogarta.com
Telp : 0855-100-7204
Sunday, March 30, 2008
Hujan Es
Matahari yang tadinya terik, tiba-tiba meredup. Pagi yang tadinya cerah, tiba-tiba siangnya menjadi agak gelap. Awan yang tadinya lembut dan seputih kapas, tiba-tiba menjadi kelihatan sangat berat dan kelabu. Sekilatan cahaya putih perak menyayat awan yang berarak. Angin berkesiuran, menerbangkan sampah-sampah, dedaunan, debu, dan pasir-pasir. Bahkan beberapa kain-kain yang terjemur ikut dilanda dan dipagut oleh angin yang bertiup kencang itu. Sebuah suara menggelegar mengoyak langit yang semakin kelam.
Gelegar itu kemudian diikuti suara gemuruh dan deru air yang mendera genteng, mendera tanah, mendera semuanya. Tunggu, ternyata bukan hanya air. Ada benda padat, putih, dan keras menimpa pipiku. Dingin tiba-tiba menyengat kulitku.
Aku amati benda putih sebesar dua kali ibu jari tanganku itu. Es? Ya, es. Tepatnya butiran-butiran es sebesar dua kali ibu jari tanganku. Butiran itu menerpa pipiku dengan telak. Kemudian diikuti oleh butiran-butiran lain. Semakin menderas. Seolah peluru yang dimuntahkan dari awan, butiran-butiran itu menghujam ke bumi. Menimpa apa saja untuk kemudian mulai mencair.
Kembali sebuah guratan cahaya perak meretakkan gemawan. Kemudian diikuti oleh suara berdentum yang sangat keras. Angin semakin kencang. Beberapa dahan dan ranting seperti dipaksa meninggalkan batang. Luruh ke bumi bersama dedaunan. Kemudian terseret oleh deras air yang telah bercampur tanah dan terlihat kecoklatan.
Setengah jam berlalu. Butiran-butiran es mulai berkurang dan akhirnya menghilang. Kini tinggal tetesan air lembut yang masih turun. Namun waktu lebih kurang setengah jam itu sudah cukup bagi hujan es untuk memporakporandakan semuanya, memporakporandakan dedaunan, rerantingan, dedahanan, dan pepohonan. Juga Memporakporandakan genting kamarku.
Ya, setengah jam. Cukup setengah jam akan memporakporandakan semuanya, seperti kau. Kau yang sengaja atau tidak telah memporakporandakan semua mimpiku.
Matahari yang tadinya terik, tiba-tiba meredup. Pagi yang tadinya cerah, tiba-tiba siangnya menjadi agak gelap. Awan yang tadinya lembut dan seputih kapas, tiba-tiba menjadi kelihatan sangat berat dan kelabu. Sekilatan cahaya putih perak menyayat awan yang berarak. Angin berkesiuran, menerbangkan sampah-sampah, dedaunan, debu, dan pasir-pasir. Bahkan beberapa kain-kain yang terjemur ikut dilanda dan dipagut oleh angin yang bertiup kencang itu. Sebuah suara menggelegar mengoyak langit yang semakin kelam.
Gelegar itu kemudian diikuti suara gemuruh dan deru air yang mendera genteng, mendera tanah, mendera semuanya. Tunggu, ternyata bukan hanya air. Ada benda padat, putih, dan keras menimpa pipiku. Dingin tiba-tiba menyengat kulitku.
Aku amati benda putih sebesar dua kali ibu jari tanganku itu. Es? Ya, es. Tepatnya butiran-butiran es sebesar dua kali ibu jari tanganku. Butiran itu menerpa pipiku dengan telak. Kemudian diikuti oleh butiran-butiran lain. Semakin menderas. Seolah peluru yang dimuntahkan dari awan, butiran-butiran itu menghujam ke bumi. Menimpa apa saja untuk kemudian mulai mencair.
Kembali sebuah guratan cahaya perak meretakkan gemawan. Kemudian diikuti oleh suara berdentum yang sangat keras. Angin semakin kencang. Beberapa dahan dan ranting seperti dipaksa meninggalkan batang. Luruh ke bumi bersama dedaunan. Kemudian terseret oleh deras air yang telah bercampur tanah dan terlihat kecoklatan.
Setengah jam berlalu. Butiran-butiran es mulai berkurang dan akhirnya menghilang. Kini tinggal tetesan air lembut yang masih turun. Namun waktu lebih kurang setengah jam itu sudah cukup bagi hujan es untuk memporakporandakan semuanya, memporakporandakan dedaunan, rerantingan, dedahanan, dan pepohonan. Juga Memporakporandakan genting kamarku.
Ya, setengah jam. Cukup setengah jam akan memporakporandakan semuanya, seperti kau. Kau yang sengaja atau tidak telah memporakporandakan semua mimpiku.
Saturday, March 29, 2008
Dua Buku Dari Makasar
19.00 Wib,
31 Maret 2008,
Toko Buku Ultimus, Jln. Lengkong Besar No. 127 Bandung
Sumber : H.U. Pikiran Rakyat
DUA penulis dari Makassar akan hadir di Toko Buku Ultimus, Jalan Lengkong Besar No. 127 Bandung pada 31 Maret 2008 pukul 19.30 WIB s.d. selesai. Kedua penulis, masing-masing Aan Mansyur (kumpulan puisinya Aku Hendak Pindah Rumah) dan Lily Yulianti (kumpulan cerpennya Makkunrai). Kedua buku dari Makassar ini akan diluncurkan bersamaan dengan menghadirkan pembicara Anjar “Beraja”, Lukman A. Sya, dan moderator Yopi Setia Umbara.
Acara diisi pembacaan puisi dan cerpen dari kedua buku yang dilakukan oleh, di antaranya, Lukman A Sya, Yopi Setia Umbara, Anjar, Sangdenai, Dian Hardiana, Heri Maja Kelana, Dian Hartati, Semi Ikra Anggara, Iwan M. Ridwan, dan Evi SR. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.
19.00 Wib,
31 Maret 2008,
Toko Buku Ultimus, Jln. Lengkong Besar No. 127 Bandung
Sumber : H.U. Pikiran Rakyat
DUA penulis dari Makassar akan hadir di Toko Buku Ultimus, Jalan Lengkong Besar No. 127 Bandung pada 31 Maret 2008 pukul 19.30 WIB s.d. selesai. Kedua penulis, masing-masing Aan Mansyur (kumpulan puisinya Aku Hendak Pindah Rumah) dan Lily Yulianti (kumpulan cerpennya Makkunrai). Kedua buku dari Makassar ini akan diluncurkan bersamaan dengan menghadirkan pembicara Anjar “Beraja”, Lukman A. Sya, dan moderator Yopi Setia Umbara.
Acara diisi pembacaan puisi dan cerpen dari kedua buku yang dilakukan oleh, di antaranya, Lukman A Sya, Yopi Setia Umbara, Anjar, Sangdenai, Dian Hardiana, Heri Maja Kelana, Dian Hartati, Semi Ikra Anggara, Iwan M. Ridwan, dan Evi SR. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.
Thursday, March 27, 2008
Lintas Dago - Merdeka
Tidak ada yang terlalu istimewa hari ini ketika aku kembali menapaki jejak sepanjang lintasan Dago - Merdeka. Seperti hari-hari sebelumnya, terik matahari yang tidak mampu lagi ditepis oleh pepohonan yang semakin jarang, debu dan asap dari knalpot kendaraan yang terhadang kemacetan, trotoar jalan yang semakin sempit karena dipakai sebagai lahan parkir, dan deru mesin-mesin berjalan yang memekakkan telinga, tetap menjadi santapanku ketika melintasi lintasan ini.
Perbedaannya hanya satu, hari ini aku justru tidak melihat mobil-mobil berwarna hijau dengan strip merah itu. Ya, tidak ada angkot hari ini. Tidak ada. Jalanan hari ini boleh di bilang
eksklusif untuk kendaraan dengan plat nomor hitam. Angkot yang selama ini dituding sebagai biang kemacetan untuk hari ini istirah dulu karena mereka, pengusaha dan sopir angkot, mengadakan aksi mogok masal se-Bnadung raya.
Secara pribadi aku tidak peduli apakah angkot jalan atau mogok. Toh, seperti biasa aku lebih suka jalan kaki ketika menelusuri jalanan kota ini. Namun kemudian yang jadi perhatianku adalah tudingan selama ini yang ditujukan kepada angkot sebagai biang kemacetan kota. Hari ini, ketika angkot tidak beroperasi, jalanan tetap macet. Lintas Dago - Merdeka tetap padat merayap. Lihat saja hasil pandangan mata kamera sakuku ini.
Satu pertanyaanku kemudian, benarkah klaim selama ini yang mengatakan bahwa angkot adalah biang kemacetan? Menurutku tidak 100% benar. Bagaimana menurut Anda?
Perbedaannya hanya satu, hari ini aku justru tidak melihat mobil-mobil berwarna hijau dengan strip merah itu. Ya, tidak ada angkot hari ini. Tidak ada. Jalanan hari ini boleh di bilang
Secara pribadi aku tidak peduli apakah angkot jalan atau mogok. Toh, seperti biasa aku lebih suka jalan kaki ketika menelusuri jalanan kota ini. Namun kemudian yang jadi perhatianku adalah tudingan selama ini yang ditujukan kepada angkot sebagai biang kemacetan kota. Hari ini, ketika angkot tidak beroperasi, jalanan tetap macet. Lintas Dago - Merdeka tetap padat merayap. Lihat saja hasil pandangan mata kamera sakuku ini.
Satu pertanyaanku kemudian, benarkah klaim selama ini yang mengatakan bahwa angkot adalah biang kemacetan? Menurutku tidak 100% benar. Bagaimana menurut Anda?
Subscribe to:
Posts (Atom)
